Categories
Pendidikan

Teori – Teori Sastra

Teori – Teori Sastra

Teori - Teori Sastra

Teori Sastra Psikoanalisis

Teori sastra psikoanalitik memandang sastra sebagai tanda penulis. Pada pasien dengan histeria, gejalanya dilihat sebagai gangguan fisik, sedangkan pada sastra, gejalanya muncul sebagai pekerjaan kreatif. Karena itu, dengan asumsi ini, misalnya, karakter dalam novel akan diperlakukan sebagai orang yang hidup dalam mimpi penulis. Konflik psikologis yang dialami oleh tokoh-tokoh ini dapat dilihat sebagai refleksi atau representasi dari konflik psikologis penulis sendiri. Namun, tidak boleh dilupakan bahwa refleksi ini terjadi secara tidak sadar dan sering didistorsi sebagai mimpi oleh penulis novel. Dengan kata lain, ketidaksadaran penulis bekerja dengan aktivitas menciptakan novelnya. Artinya, karya sastra sebenarnya adalah pemenuhan rahasia dari keinginan penulis yang terbatas (ditekan) di alam bawah sadar.


Teori Sastra Struktural

Studi sastra struktural (studio) tidak memperlakukan karya sastra tertentu sebagai objek studi. Tujuan karyanya adalah sistem sastra, yang merupakan serangkaian kontrak abstrak dan umum yang menangani hubungan berbagai elemen dalam teks sastra, sehingga memastikan bahwa elemen-elemen tersebut saling berhubungan secara keseluruhan. Walaupun kontrak-kontrak yang membentuk sistem sastra bersifat sosial dan ada pula yang secara publik sadar, studi-studi literatur struktural mengasumsikan bahwa kontrak-kontrak dapat dilacak dan dijelaskan, terlepas dari pengarang atau realitas sosial, dari analisis otonom atas struktur teks sastra. Analisis menyeluruh dan menyeluruh tentang hubungan berbagai elemen yang membentuk teks sastra diyakini menghasilkan informasi tentang sistem sastra.


Teori Sastra Feminis

Teori feminisme sastra memandang karya sastra sebagai cerminan dari realitas sosial patriarki. Oleh karena itu, tujuan penerapan teori ini adalah untuk menghilangkan asumsi patriarkis yang tersembunyi dalam karya sastra melalui gambar atau gambar perempuan. Oleh karena itu, pembaca atau peneliti akan dapat membaca teks-teks sastra, menyadari bahwa mereka adalah perempuan yang tertindas oleh sistem sosial patriarki, sehingga mereka akan melihat bagaimana teks-teks sastra yang mereka baca bersembunyi dan mendukung sudut pandang patriarki mereka. Lebih jauh, studi literatur dengan pendekatan feminis tidak terbatas pada upaya untuk menghilangkan asumsi patriarki dalam mengidentifikasi wanita dengan teks sastra, tetapi juga sastra wanita, terutama karya sastra oleh wanita, ginekologis.

Yang diinginkan di sini adalah studi tentang kekhususan karya sastra oleh perempuan, baik gaya, tema, genre, dan struktur karya sastra perempuan. Penulis wanita juga telah secara khusus dipelajari, seperti proses kreatif, biografi, dan pengembangan profesi sastra wanita. Jenis-jenis studi ini bertujuan untuk belajar tentang sejarah sastra dan sistem sastra wanita.


Teori Resepsi Pembaca

Teori penerimaan pembaca mencoba untuk menguji hubungan antara karya sastra dan penerimaan pembaca. Dalam terang teori ini, makna karya sastra tidak dapat dipahami dari teks sastra itu sendiri, tetapi dapat dipahami dalam konteks memberikan makna kepada pembaca. Dengan kata lain, makna karya sastra hanya dapat dipahami dengan melihat dampaknya pada pembaca.

Karya sastra sebagai efek pada pembaca dilakukan dalam arti konkretisasi, yaitu, dalam arti bahwa pembaca memberikan teks sastra dengan melengkapi teks dengan pikirannya sendiri. Tentu saja, pembaca tidak dapat berinkarnasi dengan bebas seperti yang ia pikirkan, karena konkretnya yang sebenarnya berada dalam batas-batas cakrawala harapan, serangkaian asumsi umum tentang sastra yang dimiliki generasi pembaca tertentu.

Harapan pembaca Horizon ditentukan oleh tiga hal, yaitu

  • Aturan dalam teks sastra,
  • Pengetahuan dan pengalaman pembaca dengan berbagai teks sastra
  • Kemampuan pembaca untuk mengasosiasikan karya sastra dengan kehidupan nyata. Poin ketiga ini juga ditentukan oleh sifat ketidakpastian teks sastra, yaitu kesenjangan antara teks sastra dan kehidupan nyata.

Teori penerimaan sastra mengasumsikan bahwa pemahaman kita tentang sastra akan lebih kaya jika kita menempatkan pekerjaan dalam konteks keragaman harapan yang diciptakan dan direformasi oleh berbagai generasi dari waktu ke waktu. Karena itu, dalam pemahaman karya sastra, ada dialog antara cakrawala harapan masa kini dan masa lalu.

Sumber : https://materi.co.id/

Categories
Pendidikan

Idealisme dan Aliran Lainnya dalam Karya Sastra

Idealisme dan Aliran Lainnya dalam Karya Sastra

Idealisme dan Aliran Lainnya dalam Karya Sastra

Aliran dalam karya sastra tidak dapat sepenuhnya “distigmatisasi” oleh seorang penulis. Nasib Alisahbana adalah idealis, tetapi juga romantis, misalnya dalam karyanya, itulah sebabnya ia juga dikenal sebagai idealis romantis. Aliran idealisme meliputi romansa, simbolisme, ekspresionisme, mistisisme, dan surealisme. Namun, aliran materialisme adalah realisme, naturalisme, impresionisme, dan determinisme. Aliran lain yang melihat manusia dengan cara yang unik dikenal sebagai aliran eksistensialisme.

 

Aliran Idealisme

Aliran idealisme adalah aliran filsafat yang menunjukkan bahwa dunia ide, dunia kerinduan, dunia harapan adalah dunia pemikiran manusia terdepan. Dalam dunia sastra, idealisme berarti aliran yang mewakili dunia mimpi, dunia mimpi dan dunia yang tidak dapat diakses tetapi penuh harapan. Ini menggambarkan ideal segala sesuatu yang mewakili dunia kecantikan, kebahagiaan, kedamaian, kebahagiaan, perdamaian, kemakmuran dan lebih banyak harapan, kompatibel dengan kekerasan, kecemasan, kemiskinan, penindasan, ketidakadilan, tuntutan domestik yang tidak menyenangkan. Menyedihkan dan menyakitkan. Nasib penulis Indonesia Alisyahbana, yang dikenal sebagai seorang idealis di novel dan puisinya.

 

Aliran Asmara

Aliran asmara ini menekankan ekspresi emosi sebagai dasar dari proses berpikir penulis, sehingga menyentuh emosi pembaca setelah membaca pernyataannya. Penulis menggunakan bentuk ekspresi yang paling indah dan lengkap untuk menciptakan pemikirannya. Aliran asmara sering dikaitkan dengan masalah cinta, karena masalah cinta muncul secara emosional. Namun, anggapan ini tidak selalu benar.

 

Aliran Simbolisme

Simbolisme adalah genre sastra di mana karakter disajikan sebagai binatang, bukan sebagai tanaman atau benda lain seperti tanaman yang dilambangkan sebagai perilaku manusia. Hewan atau tumbuhan dianggap orang yang dapat bergerak, berbicara, berkomunikasi, berpikir, berpikir, seperti manusia. Keberadaan karya sastra ini dalam bentuk simbolisme sering ditentukan oleh situasi yang tidak sesuai dengan narator atau penulis. Misalnya, dalam masyarakat kuno, di mana kebebasan berekspresi dibatasi oleh etiket moral yang menghubungkan mereka dalam kelompok masyarakat, pandangan dan pemikiran mereka disampaikan melalui peribahasa atau dongeng.

 

Aliran Ekspresionisme

Aliran ekspresionisme adalah aliran dalam seni yang berhubungan dengan aliran internal atau aliran jiwa dan tidak fokus pada peristiwa atau peristiwa nyata. Ekspresi internal tinggi dan meledak-ledak. Ini sering disebut sebagai pernyataan atau sikap penulis. Tren ini pertama kali berkembang di Jerman sebelum Perang Dunia I, penulis Indonesia untuk Presiden Ekspresionis Anwar.

 

Aliran Mistisisme

Mistisisme adalah aliran sastra yang mengacu pada pemikiran mistik berdasarkan kepercayaan pada Satu Tuhan Sejati yang mencakup segala sesuatu di dunia ini. Karya sastra tasawuf ini menyajikan karya yang mencoba untuk bersatu dengan Satu Allah Sejati, Allah Semesta. Pada masa sastra klasik, Raja Ali Haji dikenal sebagai Dua Belas Gurindam yang penuh dengan ajaran mistik. Baru-baru ini, dalam karya sastra yang menunjukkan aliran mistis seperti Abdul Hadi W.M., Danarto dan Rifai Ali.

 

Aliran Surrealisme

Surrealisme adalah aliran literatur yang mengambil keuntungan dari alam bawah sadar Anda, kehidupan impian Anda dan pidato Anda. Semua peristiwa dalam gambar berlangsung secara bersamaan dan bersamaan. Tren ini dipengaruhi oleh Sigmund Freud (1856-1939), seorang psikiater Austria yang dikenal karena psikoanalisisnya pada gejala histeria manusia. Dia berpendapat bahwa gejala histeria traumatis yang dialami seseorang dapat diobati dengan analisis kejiwaan yang dilakukan pada kesadaran pasien daripada hipnosis, seperti yang dilakukan rekannya, Breuer. Menurut Freud, emosi yang mendasarinya adalah seksual. Tindakan manusia dimotivasi oleh hasrat seksual asli, libido. Ia dapat kembali ke keadaan semula dengan memasuki kesadaran manusia.

 

 

 

Baca Juga Artikel Lainnya :

 

Categories
Pendidikan

Relationship dalam Jejaring (Network)

Relationship dalam Jejaring (Network)

Relationship dalam Jejaring (Network)

Relationship dapat berkembang lebih dari sekedar hubungan perusahaan & pelanggan (kita namakan pelanggan fokal). Bagi pelanggan, perusahaan adalah pemasok produk (kita namakan pemasok fokal) yg mereka butuhkan. Pemasok fokal sendiri merupakan pelanggan dari sejumlah pemasok lain. Bahkan, pelanggan fokal merupakan pemasok bagi pelanggan-pelanggannya. Jadi, apabila diperluas, relationship tidak hanya antara pemasok fokal & pelanggan fokal, akan tetapi juga mencakup relationship yg terkait dengan keduanya, baik ke hulu (dengan pemasok fokal) maupun ke hilir (pelanggan fokal).

 

Penggerak Relationship

Memang banyak faktor yg mempengaruhi langgeng tidaknya relationship. Namun, dasar dari semuanya itu adalah kepuasan pelanggan. Kepuasan merupakan syarat utama bagi terbentuknya komitmen & kepercayaan kepada perusahaan. Ketiga konsep yg saling berkaitan, yaitu kepuasan, komitmen, & kepercayaan, merupakan komponen pembentuk loyalitas. Dengan loyalitaslah konsumen bersedia berhubungan dalam jangka panjang dengan perusahaan.

 

Menurut Aaker (1991), pelanggan yg loyal ditandai oleh ciri-ciri :

(1) puas terhadap perusahaan (atau produknya), (2) memiliki sikap positif terhadap perusahaan (atau produknya), (3) bangga terhadap perusahaan (atau produknya), (4) menjadi pembela perusahaan (atau produknya), (5) merekomendasikan perusahaan (atau produknya), & (6) bersedia membayar harga lebih mahal walaupun ada produk pesaing yg lebih murah. Karena itu, dalam mengembangkan relationship marketing, para pemasar perlu mengetahui konsep kepuasan konsumen (pelanggan).

 

Kepuasan Pelanggan

Perusahaan perlu memuaskan konsumen. Selain utk menghindari keluhan konsumen yg diceritakan (devil advocate), tujuan yg tidak kalah penting adalah utk menjadikan kosumen menjadi pemasar gratis. Namanya komunikasi mulut ke mulut (word-of-mouth communication). Orang demikian sudah pasti loyal. Aaker (1991) menamainya comitted buyer. Oleh Kotler (2000) disebut hardcore loyal. Menjaga konsumen yg loyal lebih berharga dari mengejar konsumen baru yg belum tentu loyal.

Dalam era globalisasi ini, persaingan bisnis baik di pasar domestik maupun di pasar internasional semakin tajam. Setiap perusahaan harus berusaha utk memuaskan pelanggan bila ingin memenangkan persaingan & tetap bertahan keberadaanya. Menurut Kotler (2000), kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (atau hasil) suatu produk yg ia rasakan dibandingkan dengan harapannya. Umumnya harapan pelanggan merupakan perkiraan atau keyakinan pelanggan tentang apa yg akan diterimanya bila ia membeli atau mengkonsumsi suatu produk (barang atau layanan). Sedangkan kinerja yg disampaikan adalah persepsi pelanggan terhadap apa yg ia terima setelah mengkonsumsi produk yg dibeli.

Banyak perusahaan yg menyatakan bahwa tujuan perusahaan yg bersangkutan adalah utk memuaskan pelanggan. Cara pengungkapannya sangat beragam. Ada yg merumuskannya “pelanggan adalah raja”, “kepuasan pelanggan adalah tujuan kami”, ”mewujudkan harapan pelanggan” dsb. Situasi ini tidak hanya terjadi pada sektor swasta tetapi juga pada perusahaan atau instansi pemerintah. Kini semakin disadari bahwa pelayanan & kepuasan pelangan merupakan aspek vital dalam rangka bertahan dalam bisnis & memenangkan persaingan. Meskipun demikian tidaklah mudah utk mewujudkan harapan konsumen secara menyeluruh. Pelanggan yg dihadapi saat ini sudah menyadari hak-haknya. Oleh karena itu, maka sangat tidak realistis bila suatu perusahaan mengharapkan tidak ada pelanggan yg tidak puas. Namun tentu saja perusahaan bisa berusaha meminimalkan ketidakpuasan pelanggan dengan memberikan pelayanan yg makin hari makin baik. Pada saat bersamaan, perusahaan juga harus memperhatikan konsumen yg merasa tidak puas.

Lalu bagaimana sebenarnya para pembeli membentuk harapan mereka? Harapan para pembeli dipenuhi oleh pengalaman pembelian mereka sebelumnya, nasihat teman atau kolega, serta janji & informasi pemasar & para pesaingnya. Jika para pemasar meningkatkan harapan terlalu tinggi, para pembeli kemungkinan besar akan kecewa.

1. Memantau Kepuasan Pelanggan

Ada beberapa metode yg dapat dipergunakan setiap perusahaan utk memantau kepuasan pelanggannya. Kotler (1997) mengemukakan 3 metode utk mengukur kepuasan pelanggan, yaitu :

a. Sistem keluhan dan saran
Setiap perusahaan yg berorientasi pada pelanggan perlu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada para pelanggannya utk menyampaikan saran, pendapat & keluhan mereka. Media yg bisa digunakan meliputi kotak saran yg diletakkan ditempat-tempat yg strategis, menyediakan kartu komentar, menyediakan saluran telepon khusus, dll. Informasi yg diperoleh melalui metode ini dapat memberikan ide-ide baru & masukan yg berharga bagi perusahaan sehingga memungkinkannya utk memberikan respon secara cepat & tanggap terhadap setiap masalah yg timbul. Meskipun demikian karena metode ini cenderung bersifat pasif, maka sulit mendapatkan gambaran lengkap mengenai kepuasan & ketidakpuasan pelanggan. Tidak semua pelanggan yg tidak puas akan menyampaikan keluhannya. Bisa saja mereka langsung beralih pemasok & tidak akan membeli layanan perusahaan lagi. Upaya mendapatkan saran (terutama saran yg berkualitas) dari pelanggan juga sulit dilakukan dengan metode ini. Terlebih lagi bila perusahaan tidak memberikan imbal balik yg memadai kepada mereka yg telah menyumbangkan ide kepada perusahaan.

b. Berpura-pura Menjadi Pembeli (Ghost Shopping)
Metode ini dilaksanakan dengan cara mempekerjakan beberapa orang utk berperan atau bersikap sebagai pelanggan potensial produk perusahaan & pesaing. Lalu ghost shopper tersebut menyampaikan temuan-temuannya mengenai kelemahan & kekuatan produk perusahaan & pesaing berdasarkan pengalaman mereka dalam pembelian produk-produk tersebut. Selain itu para ghost shopper juga dapat mengamati atau menilai cara perusahaan & pesaingnya menjawab pertanyaan pelanggan & menangani setiap keluhan.

Ada baiknya para menajer perusahaan langsung terjun sebagai ghost shopper utk mengetahui langsung bagaimana karyawannya berinteraksi & memperlakukan para pelanggannya. Tentunya karyawan tidak boleh tahu kalau atasannya baru melakukan penelitian, karena bila hal ini terjadi, perilaku mareka akan sangat ‘manis’ & penilaian akan menjadi bias.

c. Survei Kepuasan Konsumen
Umumnya banyak penelitian mengenai kepuasan pelanggan melalui metode survei, baik melalui pos, telepon, maupun wawancara pribadi. Melalui survei, perusahaan akan memperoleh tanggapan & umpan balik secara langsung dari pelanggan & sekaligus juga memberikan tanda positif bahwa perusahaan menaruh perhatian terhadap pelanggannya. Pengukuran kepuasan pelanggan melalui metode ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya : (1) pernyataan langsung, (2) problem analisis, (3) analisis tingkat kepentingan-kinerja, & (4) ketidakpuasan turunan (derived dissatisfaction).

 

2 Faktor yg berpengaruh pada kepuasan adalah :

a. Harapan (Expectation)
Harapan adalah kata yg sering digunakan & jelas bagi kebanyakan orang. Perhatikan pernyataan-pernyataan berikut :

“Melihat pagi cerah begini, saya mengharapkan hari akan cerah”
“Setelah menjadi sarjana, saya mengharapkan kalian menciptakan lapangan kerja, bukan mencari kerja”.
“Dengan harga sekitar Rp 70 juta, saya tidak mengharapkan mobil Chery QQ sebaik mobil Jepang sekelas, yaitu Suzuki Karimun Estillo”.
“Akibat banyaknya penduduk & terbatasnya lapangan kerja, persaingan utk memperoleh pekerjaan yg baik sangat ketat saat ini. Oleh karena itu, saya mengharapkan pendidikan terbaik utk anak-anak saya. Saya berani membayar mahal utk itu”.

Pernyataan-pernyataan di atas berisikan harapan. Tetapi ada perbedaannya. Pada pernyataan pertama, harapan adalah suatu bentuk antisipasi. Ada hubungan jika-maka di dalamnya. Pola jika-maka itu berasal dari pengalaman. Dalam pernyataan kedua, harapan itu adalah suatu fungsi. Seorang sarjana (berfungsi) menciptakan lapangan kerja. Mobil sedan yg saya beli saya harapkan nyaman. Bor ini saya harapkan dapat membuat lubang dengan presisi. Kemampuan utk melakukan fungsi dinamakan performa. Jadi, terkait dengan fungsi, harapan adalah suatu tingkat performa yg seharusnya ditunjukkan oleh suatu objek sesuai dengan situasi & kondisi objek itu.

Dalam pernyataan ketiga, harapan adalah suatu konsekuensi. Dalam contoh ini, harapan ‘Dast Oto tidak sebaik Suzuki Carry’ adalah konsekuensi dari harganya yg lebih rendah. Konsekuensi hampir sama sebenarnya dengan fungsi. Pernyataan ‘mobil sedan yg saya beli saya harapkan nyaman’, bisa saja menjadi ‘sebagai sedan, (konsekuensinya) mobil yg saya beli saya harapkan nyaman’. Perbedaannya adalah bahwa di dalam harapan sebagai konsekuensi, ada komparasi atau perbandingan. Objek dibandingkan dengan referensi atau standar yg diketahui.

Dalam pernyataan keempat, harapan berasal dari kebutuhan. Malah, seringkali harapan dicampuradukkan dengan kebutuhan. Misalnya, seseorang membeli pembuka botol karena membutuhkan alat yg bisa membuka botol secara praktis. Harapannya juga, pembuka botol yg dibeli dapat membuka botol secara praktis.

 

Sumber : https://seputarilmu.com/

Categories
Pendidikan

Harapan Berdasarkan Tingkat Keinginan Konsumen

Harapan Berdasarkan Tingkat Keinginan Konsumen

Harapan Berdasarkan Tingkat Keinginan Konsumen

Ada yg mengatakan begini : “Konsumen pasti menginginkan yg terbaik”. Dengan kata lain, harapannya tidak perlu diukur lagi. Kondisi yg terbaik, pasti itulah yg diinginkan konsumen. Alasannya, setiap orang pasti mencari yg terbaik bagi dirinya. Masalahnya, kebutuhan manusia tidak terbatas. Berarti, ‘kondisi terbaik’ yg diinginkan konsumen tidak terbatas. Konsekuensinya, harapan tidak bisa diukur. Karena batas harapan tidak jelas, maka dalam pengukuran perilaku konsumen, disarankanlah faktor harapan tidak perlu diikutsertakan. Kalau memang sepakat harapan tidak terbatas, mau tidak mau kita harus setuju dengan usulan itu. Namun, dengan menyadari bahwa harapan itu sendiri dapat diklasifikasi, akan semakin jelas harapan mana yg diukur dalam konteks riset kepuasan konsumen.

 

Oliver (1999) menyimpulkan adanya beberapa jenis harapan.

Secara berjenjang, jenis-jenis harapan tersebut dapat disusun mulai dari tingkat paling rendah sampai tingkat paling tinggi. Harapan tertinggi, ada pada tingkat ideal. Yg ini sulit dijangkau. Harapan ideal ini berbicara pada level yg tidak ada kekurangannya atau sempurna. Di bawah yg ideal adalah exellence atau istimewa. Ini adalah suatu harapan yg tingkat yg dinginkan pada pada posisi exellence. Ini sebenarnya sedikit di bawah ideal. Tetapi, sulit pula mengatakan berapa jauh jaraknya dari ideal. Itulah sebabnya, Zeithhaml, Parasuraman & Berry, seperti dikutip Oliver (1999), memposisikan exellence atau superioritas pada tingkat tertinggi. Pada saat orang berbicara : “This is what the product to deliver to satisfy me” atau “This is I know I want”, sebenarnya seseorang berbicara desired expectation. Harapan yg diinginkan itu berbicara soal sesuatu yg diidam-idamkan, tetapi belum pada batas utopia (sesuatu hal yg tidak mungkin). Level di atasnya, exellence dan ideal expectation, cenderung pada batas utopia.

 

Pengertian Deserved Level

Deserved level, yaitu harapan setelah desired level, adalah harapan yg kita nilai layak sesuai dengan pengorbanan atau hak kita. Misalkan kita menginap di hotel dengan tarif Rp 1 juta per malam. Tentu, kita mengharapkan layanan yg layak untuk tarif sebesar itu. Pernyataan berikut mencerminkan harapan pada level ini: “Saya telah membayar sejumlah besar uang ke sekolah Bapak. Saya berhak dong mendapat layanan yg sepadan”. Harapan pada level kebutuhan bersifat mendasar. Kalau haus, yg anda butuhkan adalah air. Tetapi, yg Anda inginkan adalah coca-cola. Jadi, kalau keinginan berhubungan dengan hasrat, maka kebutuhan berhubungan dengan kondisi objektif tentang apa yg diperlukan.

Di bawah needed-level expectation, ada adequate-level expectation. Ini adalah harapan level cukup atau sedang. Yg paling bawah adalah level minimum yg bisa ditoleransi. Ini adalah batas kesabaran konsumen. Batas ini sebenarnya ada pada level buruk. Kalau pun masih dapat diterima, batasnya adalah kemampuan konsumen menerima situasi tidak enak.

 

Bagaimana Harapan Terbentuk?

Sumber eksternal. Ada 2 sumber yg membentuk harapan, yaitu sumber eksternal & internal. Yg paling banyak adalah sumber eksternal. Diantaranya, yg pertama adalah klaim promosi. Ini paling kuat. Kalau dengan slogan ‘SHOGUN KOK DILAWAN’, iklan Shogun mengatakan sepeda motor Suzuki Shogun paling cepat di kelasnya, harapan pembeli tentunya tarikan sepeda motor tersebut paling kencang. Harapan seperti ini paling sensitif. Kalau ternyata tidak terbukti, paling mudah menimbulkan kekecewaan konsumen.

Sumber eksternal kedua adalah informasi dari mulut ke mulut. Berita yg menyebar dari satu orang ke orang lain dapat membentuk harapan. Misalnya, bakmi Gajah Mada terkenal enak. Bagi yg mendengar informasi itu, tentu mengharapkan bakmi yg dijual di restoran bernama Gajah Mada enak.

Terakhir, aspek-aspek yg terkait dengan produk, seperti harga, kemasan, ketersediaan, merek, store image & iklan, juga mempengaruhi harapan. Soal harga jelas. Harga yang mahal membentuk harapan akan kinerja produk yg tinggi. Bila membaca buku-buku manajemen pemasaran, keterkaitan aspek lain dapat dikaitkan dengan harapan. Khusus iklan, yg dimaksud di sini bukan isinya, melainkan metoda, format & frekuensinya. Iklan televisi dianggap memiliki reputasi lebih tinggi, sehingga membentuk harapan akan reputasi produk. Dari segi format, iklan berwarna lebih bergengsi dibanding iklan hitam putih. Dari segi frekuensi, semakin sering iklan muncul, reputasi produk meningkat. Harapan juga meningkat. Isi terkait dengan klaim promosi yg telah dibicarakan.

Sumber internal. Sumber internal adalah diri sendiri. Secara internal, ada 2 sumber yg terkait, yaitu pengalaman & kebutuhan. Pengalaman yg baik pada masa yg lalu atau masa sekarang, tentu menimbulkan harapan akan pengalaman yg sama kemudian. Sedangkan kebutuhan berkorelasi dengan needed-level expectation.

b. Perceived Quality

Konsep ini merupakan bagian persepsi yg menyoroti kualitas secara khusus. Tentunya, kualitas berdasarkan persepsi konsumen. Dalam pemasaran, yg paling penting adalah persepsi. Malah, bagi pemasar, perlu ada keyakinan bahwa persepsi adalah realitas. Soal kualitas juga demikian. Ada kualitas objektif, ada pula kualitas menurut persepsi konsumen (perceived quality). Yg terpenting adalah persepsi di mata konsumen. Kotler (2000) mengatakan bahwa : “Quality is the totality of feature and characteristics of a product or service that bear on its ability to satisfy stated or implied needs”. Artinya, kualitas adalah totalitas fitur & karakteristik yg memampukan produk memuaskan kebutuhan yg dinyatakan maupun tidak dinyatakan. Apakah sebuah produk sudah memenuhi kebutuhan? Jawabannya tergantung pada penilaian subjektif konsumen. Lagi-lagi, persepsilah yg berlaku di sini. Maksudnya, pengertian diberikan Kotler pun mengatakan kualitas sebagai persepsi.

Yg lebih tegas mengatakan kualitas produk dalam pemasaran sebagai PQ adalah I. Leonard A. Morgan. Sebagaimana dikutip Kotler (1997), dalam “Marketing Memo Pursuing A Total Quality Marketing Strategy”, ia mengatakan bahwa : “Quality must be perceived by customer. Quality work must begin with the customers’ need and end with the customers’ perception. Quality improvement are only meaningful when they are perceived by the customers”.

Cleland & Bruno (1996) memberikan 3 prinsip tentang PQ, yaitu:

Kualitas bersumber aspek produk & bukan produk atau seluruh kebutuhan bukan harga (nonprice needs) yg dicari konsumen utk memuaskan kebutuhannya. Kedua ahli ini memang berpendapat bahwa yg dipertimbangkan konsumen dari sebuah produk mencakup 3 aspek utama, yaitu harga, produk & non-produk. Produk adalah standar yg diharapkan dari sebuah produk. Pada sebuah televisi misalnya, aspek produk adalah ukuran layar, suara, gambar, kelengkapan fungsi & desain. Sedangkan aspek non-produk terdiri dari garansi, reputasi, & layanan perbaikan bengkel resmi.
Cleland & Brono (1996) berbeda dari Aaker (1991) soal sumber-sumber kualitas. Namun, kalau dicermati, perbedaannya hanya masalah istilah. Esensinya sama saja, yaitu mereka mengukur kualitas berdasarkan banyak attribut (multi-attribut analysis).
Kualitas ada kalau masuk persepsi konsumen. Quality exists only as is perceived by customers. Kalau konsumen mempersepsikan kualitas sebuah produk rendah, maka kualitas produk itu rendah, apa pun realitasnya. Persepsi lebih penting dari realitas. Konsumen membuat keputusan berdasarkan persepsi. Jadi, persepsi adalah realitas.
PQ diukur secara relatif terhadap pesaing. Aaker juga sependapat dalam hal ini. Kalau produk A sederhana saja, akan tetapi produk pesaing lebih sederhana lagi, maka produk A memiliki kualitas. Sebaliknya, kalau produk B menawarkan produk yg baik, akan tetapi produk pesaing lebih baik lagi, maka produk B tidak memiliki kualitas.

 

Sumber : https://sarjanaekonomi.co.id/

Categories
Pendidikan

Strategi Produk Berdasarkan Kepuasan Pelanggan

Strategi Produk Berdasarkan Kepuasan Pelanggan

Strategi Produk Berdasarkan Kepuasan Pelanggan
Apa pun kesimpulannya, konsumen puas atau tidak, perusahaan tetap harus membuat skala prioritas terhadap atribut dalam membenahi produk. Terdapat 4 perlakuan berdasarkan skala prioritas dengan 4 rekomendasi terhadap manajemen atribut produk sbb :

a. Prioritas Utama.

Yg termasuk dalam kategori ini adalah atribut yg tingkat kepentingannya di atas rata-rata (relatif penting), akan tetapi performanya masih di bawah rata-rata. Idealnya, kalau tingkat kepentingan di atas rata-rata, performa juga di atas rata-rata. Oleh karena itu, perusahaan harus memberikan perhatian utama pada atribut-atribut yg termasuk pada kategori ini.

b. Pertahankan.

Yg termasuk dalam kategori ini adalah atribut-atribut yg tingkat kepentingannya di atas rata-rata & performanya juga di atas rata-rata. Ini adalah kondisi ideal, oleh karena itu harus dipertahankan.

c. Berlebihan.

Ini adalah kategori bagi atribut yg tingkat kepentingannya di bawah rata-rata (relatif kurang penting), akan tetapi performanya berada di atas rata-rata (relatif baik). Berlebihannya adalah secara relatif. Dengan kata lain, dibanding atribut lain yg lebih penting, seharusnya performa atribut tersebut lebih rendah sesuai dengan tingkat kepentingannya yg relatif rendah juga. Apakah kualitasnya diturunkan? Ya. Tetapi, patokannya adalah tingkat kepentingannya. Kalau mau diturunkan, penurunannya berbicara kualitas relatif. Artinya, performanya maksimal sampai performa rata-rata saja. Memang perhatian utk atribut ini perlu diturunkan. Soalnya, suatu atribut yg berlebihan, malah dapat menurunkan kepuasan konsumen.

d. Prioritas rendah.

Ini juga termasuk kondisi masuk akal, dimana atribut yg tingkat kepentingannya di bawah rata-rata (relatif kurang penting), performanya juga di bawah rata-rata. Dengan kata ‘prioritas rendah’, apakah atribut yg termasuk dalam kategori ini (ketepatan waktu mengajar para instruktur, mutu instruktur & kebersihan) diabaikan saja? Sama sekali tidak. Dikatakan prioritas rendah juga berbanding secara relatif dengan atribut lain yg lebih penting. Dengan kata lain, atribut lain yg lebih pentinglah yg didahulukan. Didahulukan dalam hal apa? Dalam hal alokasi sumberdaya, pelatihan & pengembangan serta promosi. Dalam promosi misalnya, jangan promosikan atribut yg tingkat kepentingannya di bawah rata-rata (relatif kurang penting).

Bagaimana kalau keempat rekomendasi ini dilakukan dengan baik? Pada akhirnya, semua atribut akan mengumpul pada 2 kuadran, yaitu kuadran “pertahankan” & kuadran “prioritas rendah”. Ini adalah konsisi yg baik. Kondisi yg tidak baik adalah kalau kebanyakan atau malah semua atribut terdistribusi ke dalam kuadran “prioritas utama” & “berlebihan”. Kalau ini terjadi berarti perusahaan belum melakukan manajemen atribut produk berdasarkan tingkat kepentingannya. Terakhir, dengan skala relatif seperti di atas, tidak mungkin atribut mengumpul hanya pada satu kuadran.

 

Baca Juga Artikel Lainnya :